Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Maret 2010

Atsar Negri Para Nabi

Negri yang juga disebut sebagai Bumi Kinanah ini memang menarik. Sudah sekian ratus tahun lamanya nabi yang pernah hidup di negri ini telah wafat. Namun atsar kenabian masih akrab dengan mesir. Subhanallah….!!

Tapi jangan lupa bahwa Fir’aun pun pernah hidup di sini. Siapa yang tidak kenal orang yang pernah mengaku sebagai Tuhan, siapa yang tidak kenal orang yang ketika mati, bumi manapun tidak mau menerima jasadnya. Na’u dzu billah min dzalik….!!! Itulah Fir’aun, sehingga sampai saat ini jasadnya masih ada di salah satu museum yang ada di kairo. Maka atsarnya (bukan yang mengaku Tuhan) juga masih akrab dengan Mesir walaupun relatif sedikit.

Waktu itu ketika aku pergi bersama temanku (Saef) ke Gami’ (salah satu nama tempat dekat rumah) untuk membeli kabel printer Misykati yang baru, sungguh aku mengalami hal penting. Ketika kita (Aku dan Saef) sampai ke sebuah toko bernama ‘Ibadurrahman dekat belokan Gami’, Aku mulai melakukan transaksi pembelian kabel. Tiba- tiba salah satu temanku yang lain datang menghampiri dan mengatakan bahwa kabel yang dibutuhkan ternyata sudah ada dirumah. Maka segera Aku menanyakan merek kabel yang lain ke penjual karena Aku lihat di sana hanya ada satu merek, agar Aku tidak jadi membelinya karena di rumah sudah ada.

Setelah Aku bilang ke penjual, orang mesir itu dengan menampilkan wajah yang ceria dan tawadhu’ seraya mengatakan : Aiwa, ma’aleisy. Hagat tani? Penjual bertanya.
Hmmm….Aku berpikir sejenak, lalu Aku membeli kertas A4 satu rim. Aku bilang ke penjual dan menanyakan harganya. Penjual mengatakan kalau harganya 25 pound. Aku segera setuju dan membayarnya dengan uang 30 pound, lalu menunggu kembalian. Setelah semua selesai, Aku dan kedua temanku (Fandi dan Saef) segera pulang.

Sebelum kita beranjak keluar toko, Si penjual menahanku seraya mengatakan : Istanna da’i’ah..! Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Kenapa aku diruruh menunggu sebentar??!! Sedangkan dia (penjual) menelpon seseorang. Aku langsung menanyakan kedua temanku : Bawa passport ?? kebetulan Fandi tidak membawa passport. Lalu Aku suruh dia (Fandi) pulang duluan. Aku hawatir penjual itu memanggil polisi atau mabahis.

Jelas aku kawatir dia adalah salah satu mata mata, pikirku. Lantaran beberapa hari yang lalu ada pemeriksaan di Gami’ kepada orang asing termasuk mahasiswa. Tanpa ada pemberi tahuan dahulu. Alhasil, banyak orang Indonesia yang tertangkap karena tidak membawa passport. Bahkan saat ini ada orang Indonesia yang dulu tertangkap akan segera dideportasi (dipulangkan ke negara asal) karena bermasalah. Aku dan kedua temanku memang tidak bermasalah, karena kita masih punya visa untuk bisa tinggal di Mesir. Tapi kita tetap tidak mau berurusan dengan polisi. Apalagi salah satu temanku ada yang tidak membawa passport.

Aku memang agak panik saat itu. Lalu Aku mendekati penjual itu yang sedang berada di luar toko. Dan menanyakan kenapa Aku harus menunggu sebentar….dia kelihatannya tidak berhasil menghubungi seseorang itu. Dia member isyarat kepadaku agar menunggu sebentar, sementara dia mencoba menelpon lagi. Huh… Aku semakin penasaran. Setelah dia berhenti menelpon dan kelihatannya tidak berhasil juga, dia bilang kepadaku : Ana bettashel shadi’i ‘an taman kirtos dzih.

Mahallat dzih musy bita’ak? Tanya Saef.
Panjual menjawab : Mahallat dzih bita’i ana. Bass ana gheir muta’akkid taman A4 (pakai ejaan bahasa inggris).
Zaei enta matte’rofsy taman? Sahutku.
Penjual berkata : Bass isma’ ya rayis…!! Ana bas’al tanziil taman la liirraf’i. lau taman dzih a’al min khomsah wa ‘isyrin, hagiblak khomsah gineh Kaman. Masyi.??? Tsawanii..
Ooo…Aku baru mengerti apa yang penjual inginkan. Subhanalllah….!!! Ternyata dia masih ragu dengan harga kertas sebesar 25 pound dan dia takut harga itu terlalu mahal, makannya dia menanyakan kepada temannya. Padahal akad kita dalam membeli kertas sudah selesai dan Aku dengan harga 25 pound sudah setuju.
Kemudian penjual berkata kepada Saef : mumkin terga’ wa ta’ud ba’da sa’ah we khudz fulusak..!!

Kemudian Saef menanyakan tentang perkataanya kepadaku dan Kita bersepakat untuk langsung pulang saja dan mengikhlaskan sisa lima pound itu. Setelah Aku mengatakan kepada penjual, dia lagsung berkata : La, lau akhudz dzih khomsah gineh, harom.
Singkat cerita, dia tetep tidak mau begitu saja menerima sisa uang itu. Sedangkan Aku dan Saef keburu pulang karena sudah ditunggu teman yang lain. Hingga pada akhirnya penjual bilang kepadaku, apabila nanti Aku ke sini lagi tolong ambil saja uang itu, sambil Dia memperkenalkan diri. Mahmud namanya.

Itulah yang membuat Aku merasa terenyuh. Bagaimana tidak?? begitu hati hati Dia dalam mencari rizki, apalagi menyangkut hak orang lain sedangkan Kita?? Apalagi waktu itu Aku malah mempunyai perasaan buruk sangka kepadanya. Huh…. Ironis sekali. Ini membuktikan bahwa keimanan itu mempunyai tingkatan. Dan perbedaan Aku kepadanya bener – bener membuatku seakan adalah seorang Compong yang bersu’udzon kepada orang yang wira’i.

Robbi habli imanan kaamilan, waj’alli min ‘ibaadikas sholihin..amin.
Demikian sedikit contoh akhlaq salah seorang mesir yang menjadi bukti bahwa Mesir adalah Negri para nabi. Dan atsar kenabiannya pun masih ada. semoga bermanfaat. Amin….


Read More...... Read more...

Kamis, 11 Maret 2010

Filosofi Air

Allah SWT telah menciptakan dunia seisinya dari makhluk yang memiliki ruh maupun makhluk yang tanpa ruh. dan semua itu Allah ciptakan bukan tanpa tujuan. Karena Allah tidaklah mecinptakan suatu hal secara sia – sia. Makhluk yang memiliki ruh di dalamnya seperti manusia, jin dll, sudah jelas tujuan dibalik penciptaan tersebut. Yaitu untuk menyembah kepada Sang Pencipta. Sedangkan makhluk lainnya adalah disediakan untuk manusia sehingga mereka bisa memanfaatkannya. sebagai bentuk sukurnya kepada Allah SWT.

Air, sebagai mana yang kita ketahui pentingnya keberadaan makhluk tersebut. Dan penulis tidak hendak memaparkan kebutuhan manusia akan air ataupun fungsi pentingnya air. Namun penulis hendak menuliskan makna filosofis yang terdapat pada tingkah dan sifat air. Menjadi sifat air, bahwa ia selalu mengalir dari dataran yang tinggi menuju yang lebih rendah. Semakin rendah dataran yang akan dilaluinya, semakin deras pula tekanan air yang mengalir. Terlebih aliran air dapat semakin deras serta lancar jikalau air tersebut jernih dan tidak mengandung benda – benda yang dapat mengahmbat laju air, seperti : kayu, batu dan lain sebagainya. Dan sebaliknya, jika dataran yang akan dilalui air tersebut terdiri dari dataran yang sama, maka proses aliran air tidak akan deras, bahkan hanya akan mengendap dan tidak akan mengalir. Jadi, agar air bisa terus mengalir, dataran yang akan dilewati haruslah lebih rendah. Itu semua dapat kita analogikan terhadap proses tranformasi ilmu antara guru dan murid. Proses penularan ilmu tersebaut bagaikan aliran air sebagai mana di atas. Guru sebagai orang yang mengalirkan ilmu kepada murid sangat jelas adalah orang yang memiliki keilmuan yang lebih tinggi. Dan murid tentunya adalah orang yang lebih rendah dan “merasa rendah”. Maka, jikalau demikian, proses penularan ilmu akan berjalan dengan lancar. Dan sebailknya, jika seorang murid dalam proses tersebut “merasa tinggi”,maka itu akan menyulitkan proses penularan ilmu. Karena kedua arah adalah sama – sama tinggi atau “merasa tinggi”. Dengan demikian, bagi para pencari ilmu (murid) hendaknya sadar untuk tidak merasa tinggi (tawadhu’), walaupun Si murid tahu bahwa sang guru adalah orang yang umurnya setara dengannya, bahkan lebih muda darinya. Hal itu sangat mungkin, karena setiap orang adalah “guru” bagi orang lain. Semakin kita tawadhu’, semakin deras ilmu akan mengalir..!!

Maka, hendaknya kita sebagai penuntut ilmu menanamkan sifat tawadhu’ dalam diri masing - masing. Sehinga apa yang kita cari yang tidak lain adalah ilmu, akan diperoleh melalui proses yang lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Allahumma, amiin.


Read More...... Read more...

  ©Template by Dicas Blogger.